Entri Populer

KENAKALAN REMAJA ADALAH PROBLEM BERSAMA

Diposkan oleh jundullah-online Sabtu, 14 Maret 2009


Agaknya negeri ini tidak henti-hentinya dirundung masalah. Permasalahannya pun tak hanya menyangkut satu aspek kehidupan saja. Dari masalah politik dan ekonomi hingga masalah sosial dan agama, yang terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat. Konflik horisontal berkepanjangan di internal umat hingga menyebabkan perpecahan dan kekerasan, konflik elit politik dan antar pendukung partai politik tertentu yang juga berujung pada bentrokan fisik, kenaikan BBM yang dilematis, hingga korupsi yang ’membudaya’ dan menjangkiti seluruh kalangan, tak terkecuali aparat penegak hukum.

Yang paling miris, generasi muda yang menjadi tumpuan dan penerus estafet perjuangan bangsa juga sedang mengalami ’sakit’ yang sama. Dunia muda/ remaja dan anak di negeri ini juga tak luput dari perilaku menyimpang yang pastinya bakal mengancam keberlanjutan bangsa. Narkoba, pergaulan bebas, bunuh diri dan kekerasan seolah semakin identik saja dengan kaum muda kita. Penyalahgunaan narkoba dan bunuh diri menjadi biasa kita dengar dan tak terhitung lagi kasusnya.

Dan belum juga lepas dari ingatan bagaimana aksi kekerasan di sebuah sekolah tinggi milik pemerintah dan aksi brutal oleh gank motor yang meresahkan masyarakat atau video mesum yang pelakunya remaja SMA, publik kembali dibuat terperangah dengan kembali beredarnya rekaman aksi kekerasan yang dilakukan sebuah genk remaja. Yang lebih mengejutkan lagi semua anggota genk adalah siswi SMA. Tak hanya itu,
aksi menyimpang pun turut mewarnai pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) beberapa hari yang lalu. Untuk merayakan kelulusan, tak sedikit siswa SMA melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya, mencorat coret seragam dan bendera merah putih, melakukan pelecehan seksual, membakar tangki motor dan juga menenggak minuman keras. Sebuah euphoria yang tak seharusnya menjadi tradisi.

Soerdjono Soekanto (2001, 413-414) menegaskan bahwa masa remaja adalah masa yang sangat berbahaya, karena pada periode itu, seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak-anak untuk menuju tahap selanjutnya yaitu tahap kedewasaan. Masa ini menjadi masa krisis karena belum adanya pegangan, sedangkan kepribadian remaja sedang mengalami pembentukan. Jika hal ini kurang diperhatikan, maka kemungkinan permasalahan remaja akan muncul dalam dua ciri, yakni keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi dan sebagainya), dan sikap apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua termasuk nilai dan norma).

Seorang tokoh pendidikan, Arif Rahman, menyatakan bahwa maraknya perilaku menyimpang yang terjadi di kalangan remaja Indonesia merupakan dosa pendidikan. Pola pendidikan Indonesia yang lebih mengutamakan sistem kerja otak kiri dibanding otak kanan merupakan kesalahan besar yang terus dilakukan. Akibatnya produk pendidikan kita adalah sumber daya manusia (SDM) yang hanya mengedepankan kemampuan logis dan matematika tanpa diimbangi mental dan moral yang baik sebagai kontrol diri, juga miskin kreasi dan inovasi.

Kita pun tidak bisa memungkiri bahwa pendidikan yang benar adalah faktor pembantu utama dalam keberhasilan manusia untuk melepaskan diri dari perilaku-perilaku negatif. Para psikolog juga meyakini bahwa pendidikan yang salah mempunyai pengaruh negatif dalam pembentukan kejiwaan dan cenderung mengarahkan kepribadian ke arah yang tidak benar (Amru Hasan Badran, 2005; 71,75).

Namun tentunya tanggung jawab pemberian pendidikan yang benar tersebut tidak hanya kita tujukan pada satu pihak, institusi pendidikan saja misalnya. Bukankah tanggung jawab akan kemaslahatan sebuah masyarakat termasuk dalam hal pendidikan, tidak hanya berada di pundak orang-orang tertentu? Namun lebih dari itu, ia merupakan tugas semua lapisan masyarakat baik itu keluarga, tokoh masyarakat, pegawai, akademisi, media massa dan lain-lain.

Masa remaja yang cenderung diiringi dengan ketidakstabilan emosi dalam menentukan pilihan dan mempertahankan hak dan keinginannya, akan sangat membutuhkan arahan dan bimbingan dari orang tua dan masyarakat agar mereka nantinya tidak salah dalam mengambil langkah dan keputusan. Apalagi remaja merupakan kelompok yang paling rentan terpengaruh pergaulan. Kondisi lingkungan sosial yang ada di sekitarnya sangat menentukan pembentukan kepribadian mereka. Oleh karenanya masyarakat sudah seharusnya menyediakan lingkungan yang baik dan kondusif bagi remaja.

Keluarga dan sekolah misalnya, sebagai tempat bagi remaja dalam menghabiskan waktu harus dikondisikan sebagai tempat yang nyaman untuk menemukan identitas diri. Pembinaan dan pengarahan dari orang tua dan guru harus secara konsisten dilakukan, dengan juga tetap memberikan penghargaan terhadap pendapat anak. Pun halnya dalam lingkungan, masyarakat harus turut aktif melakukan kontrol terhadap perilaku remaja dan pergaulannya.

Namun tentunya tanggung jawab mendidik remaja tidak hanya ada pada keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar tetapi juga media, yang memiliki kemampuan menghegemoni dan mempengaruhi pemikiran publik termasuk remaja. Kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh media baik cetak maupun elektronik seharusnya menjadi sarana yang sangat ampuh dalam memberikan pesan-pesan moral dan pembelajaran bagi para penikmatnya.

Tidak seperti sekarang, menjamurnya media seperi tv misalnya, malah mendorong konsumennya untuk hidup konsumtif, kapitalis, terbiasa dengan kekerasan, kriminal, dengki, permusuhan, fitnah, mistik, tahayul atau pergaulan bebas melalui tayangan yang mereka suguhkan.

Dan lebih miris lagi, biasanya dalam setiap sinetron tv baik anak, remaja/dewasa, ataupun religius, orang baik digambarkan sebagai kaum tertindas yang selalu saja diinjak-injak tanpa perlawanan, selalu menderita, disiksa, hanya bisa menangis, berdoa (kurang usaha) dan pasrah menerima nasib, tidak cerdas, mudah dikelabui dan miskin ide. Pokoknya susah menjadi orang baik. Sedangkan orang jahat digambarkan sebaliknya, orang yang cerdas, penuh perhitungan, pantang menyerah dan selalu menghasilkan ide-ide cemerlang (walaupun konteksnya untuk kejahatan), selain karakter jahat yang selalu mengiringinya. Karakter jahat dan baik yang ditonjolkan juga cenderung berlebihan (bukan seperti karakter manusia, tepatnya mendekati atau sama dengan karakter malaikat dan setan). Lagi-lagi sinteron membawa kita ke dunia mimpi yang sama sekali tak membumi (tidak sesuai dengan realitas di masyarakat).

Belum lagi tayangan berita kriminal yang menjamur, ada di setiap stasiun televisi swasta dari pagi sampai malam dengan jam tayang yang berbeda. Perbuatan kriminal/kekerasan seharusnya membuat kita bergidik ngeri menjadi terbiasa didengar telinga.
Dan siapa yang akan menjamin tayangan-tayangan itu tidak berdampak negatif bagi perilaku remaja? Siapa yang dapat memastikan tayangan tersebut tidak ikut menjadi penyumbang bobroknya moral remaja kita saat ini?

Di luar itu, patut pula menjadi pertimbangan bagi seluruh stake holder di dunia pendidikan, apa yang telah diungkapkan Arif Rahman untuk segera mengubah pola pendidikan di negeri ini secara komprehensif. Merumuskan pola pendidikan partisipatif dengan menyeimbangkan pemakaian otak kiri dan otak kanan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Kerja sama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah yang berkesinambungan diharapkan akan membentuk remaja-remaja penuh kreasi dan inovasi yang mampu menyiasati dan mengubah perilaku negatif dalam diri mereka. Pendidikan yang partisipatif dan lingkungan yang kondusif juga akan membentuk kesadaran dalam diri remaja bahwa mereka merupakan bagian dari suatu kehidupan yang mempunyai peranan, hak dan kewajiban sendiri dalam proses pembangunan masyarakatnya. Sebuah proses untuk melibatkan peran remaja sebagai bagian dari masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di lingkungannya demi membentuk kepedulian dan tanggung jawabnya akan masa depan dan masa kini. Hingga pada akhirnya mereka akan siap menggantikan generasi saat ini di kemudian hari di masa depan.

Sebaliknya, apabila kenakalan remaja dan bobroknya moral sebagian besar masyarakat masih hanya kita tanggapi secara pasif maka kita tinggal menunggu saja hancurnya sebuah negara bernama Indonesia. Wallahu alam.



Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar