Entri Populer

5 Kesempatan Sebelum 5 Kesempitan…

Diposkan oleh jundullah-online Selasa, 21 April 2009

Dari Abdullah bin ‘Abbas radliyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang ketika menasehatinya,” Manfaatkanlah lima kesempatan sebelum datang lima (kesempitan); 1) masa mudamu sebelum masa tuamu, 2) masa sehatmu sebelum masa sakitmu, 3) kecukupanmu sebelum kesempitanmu, 4) waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, 5) masa hidupmu sebelum kematianmu. “

(HR. Al Hakim, IV/341 no. 7846, dinyatakan shahih oleh Asy Syaikh al Albani dalam buku Shahih at Targhib wat Tarhib, III/168 no. 3365)

Kesempatan adalah nikmat yang Allah karuniakan kepada setiap hamba-Nya namun kebanyakan manusia terlena dengan kenikmatan di dunia ini hingga ia lalai bahwa kesempatan itu tidaklah abadi, melainkan akan ada akhirnya.

Nikmat Adalah Ujian.

Nikmat adalah ujian bagi manusia, apakah ia mempergunakannya dengan sebaik - baiknya ataukah sebaliknya menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya. Kebanyakan manusia tertipu dengan nikmat yang dikaruniakan kepadanya, lupa bahwa nikmat itu untuk disyukuri bukan utnuk dikufuri. Dimanfaatkan untuk kebaikan dan takwa serta bukan dimanfaatkan untuk dosa dan maksiat.

Allah ta’ala memberikan nikmat dan karunia untuk sebuah ujian dalam kehidupan dunia ini. Allah ta’ala telah menunjukkan kepada manusia sebuah jalan yang harus dilalui. Ada yang mau bersyukur dan menjalankan ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, namun banyak pula yang kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepadanya serta menggunakannya untuk berbuat dosa dan maksiat. Allah ta’ala berfirman…

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al Insan:2-3)

Nikmat Itu Melalaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada 2 nikmat yang kebanyakan manusia lalai atasnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Al Bukhari, Kitab Ar Roqoq, Bab Maa Jaa’a Fish Shihhati wal Faroogh, 5/2357 no.6049)

Tidaklah seseorang merasakan nikmatnya kesehatan melainkan ketika ia berada dalam keadaan sakit. Walaupun demikian, banyak orang yang ketika sembuh dari sakit dan diberikan kesehatan, ia kembali lalai akan kesehatannya dan lupa dengan sakitnya. Demikian hal-nya dengan waktu luang. Seseorang akan tersadar ketika ia kehilangan waktu luangnya, terhimpit dengan berbagai kesempitan dan kesibukan. Begitu pula masa muda. Tidaklah seseorang benar - benar menyesalinya ketika ia telah kehilangan masa muda itu.

Beruntunglah orang - orang yang memanfaatkan waktu mudanya untuk tumbuh dalam beribadah kepada Allah ta’ala hingga menjadi orang yang berada dalam jaminan naungan Allah ta’ala pada hari dimana tidak ada naungan melainkan naungan-Nya.

Yang tidak kalah melalaikan adalah kecukupan dan kekayaan. Kebanyakan manusia lalai memanfaatkan hartanya dengan sebaik - baiknya saat ia memiliki kelapangan riski dari Allah ta’ala. Hingga ia ditimpa kekurangan, hanya penyesalan dan berandai - andai yang bisa ia lakukan.

Suatu ketika datang seorang Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia bertanya,” Manakah sedekah yang paling agung pahalanya?” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab…”Engkau bersedekah dalam keadaan sehat dan kikir, takut faqir dan mengangankan kekayaan. Dan janganlah engkau menunda - nundanya ketika (nyawamu) sampai di kerongkongan sambil engkau mengatakan,” Untuk fulan sekian dan fulan sekian.” Padahal Fulan tersebut telah memilikinya.” (HR. Al Bukhari, Kitab Az Zakaah, Bab Ayyush Shodaqoti Afdhal, 2/515 dan HR. Muslim dalam kitab Az Zakaah, Bab Bayaan Anna Afdhalash Shadaqotush Shahih asy Syahih 3/93, no. 2430)

Allah ta’ala berfirman…

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun:10-11)

Menunda - nunda Adalah Sebuah Kerugian

Seseorang tidak bisa kembali ke masa lampau. Waktu berjalan maju dan tidak akan mundur sedikitpun. Jika tidak dimanfaatkan sebaik - baiknya, waktu berbalik akan menggilasnya dan buahnya adalah penyessalan di dunia sebelum nanti di akhirat. Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Bersegeralah beramal sebelum datangnya gelombang fitnahbagaikan potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari beriman namun di sore hari telah kafir, di sore harinya beriman namun di pagi harinya telah kafir. Dan mereka menjual agama mereka dengan nilai yang sedikit dari dunia.” (HR. Muslim, Kitab al Iman I/76 no. 328)

Sebagaimana juga wasiat ‘Abdullah bin Umar radliyallahu’anhuma kepada Mujahid -rahimahullah-

“Jika engkau berada di sore hari, jangan engkau menunggu pagi hari. Dan saat engkau berada di pagi hari, jangan engkau menunggu sore hari. Manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, dan manfaatkan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Al Bukhari, kitab Ar Raqaq, Bab Qaulun Nabiy, Qul Fid Dunya Ka annaka Gharibun, 5/2358, no. 6053)

Allah ta’ala telah mengingatkan dalam banyak ayat pada kitab-Nya yang mulia. Apakah kita ingin menjadi seorang yang menyesal ketika datang 5 kesempitan dan hilangnya 5 kesempatan itu…? Benar - benar sebuah kerugian yang terbesar. Wallahu al musta’an…



Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar