Entri Populer

Adzab Kubur Dan Nikmatnya

Diposkan oleh jundullah-online Sabtu, 28 Februari 2009

Iman kepada perkara ghaib merupakan diantara kewajiban terbesar bagi seorang Muslim. Dan diantara iman kepada perkara yang ghaib ialah iman kepada setiap keterangan yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya yang menerangkan tentang apa yang akan terjadi setelah datangnya kematian, yaitu apa yang akan kita alami di alam kubur kelak.
Ahlu Sunnah wal Jama’ah, mereka beriman dan percaya dengan adanya siksaan dan nikmat yang akan terjadi di dalamnya sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash shahih yang ada.
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan adzab dan nikmat kubur adalah adzab dan nikmat barzakh. Barzakh adalah nama tempat diantara dunia dan Akhirat. Allah berfirman:
      
"Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan." (Qs. Al Mukminun: 100)
Disebut adzab dan nikmat kubur, karena ia bisa menjadi bagian dari taman surga atau bagian dari jurang neraka, sesuai dengan keadaan si mayit sebelumnya. Sekalipun mayat itu terbakar, tenggelam, dimakan srigala, ia akan mendapat adzab atau nikmat kubur sesuai dengan amalnya.

Dalil-dalil dari Al Qur`an
Ibnu Qayyim berkata, "Nikmat dan adzab alam Barzakh tersebut di dalam Al Qur`an lebih dari satu tempat."
Allah berfirman:
            •              
"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". (Qs. Al Mukmin (Ghafir): 45-46)
Allah Ta'ala menyampaikan kepada mereka, bahwa mereka kelak akan disiksa pada hari Kiamat jauh lebih keras siksaanya dari siksaan yang terdahulu yaitu ketika mereka berada di dalam kubur, secara pasti. Alasannya, sebagian mereka telah mati dan tidak pernah merasakan siksaan di dunia, maka ini berarti menunjukkan adanya siksa kubur. Dan Allah berfirman:
                  •          
"Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Qs. Ath Thuur: 45-47)
Ini mungkin difahami, bahwa yang dimaksud ialah siksaan yang mereka terima melalui pembunuhan (dalam peperangan) dan lain sebagainya, disamping mungkin pula difahami bahwa yang dimaksud ialah siksaan yang mereka terima di alam Barzakh, dan inilah nampaknya yang paling nyata. Sebab, banyak diantara mereka yang mati namun tidak pernah merasakan siksaan di dunia. Selain itu bisa pula difahami bahwa yang dimaksud lebih umum daripada itu, yaitu bahwa siapa yang mati diantara mereka akan disiksa di dalam kuburnya, sedang yang masih hidup diantara mereka akan disiksa di dunia melalui pembunuhan dan sebagainya. Jadi, merupakan ancaman akan datangnya siksaan bagi mereka di dalam dunia dan di alam Barzakh.
             
"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan." (Qs. Al Mukminun: 100)
     •               
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Qs. Ibrahim: 27)
                            
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya." (Qs. Al An’am: 93)
 •      
"Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar." (Qs. At Taubah: 101)

Dalil-dalil dari As Sunnah
Al Baraa` bin Al 'Azib berkata: menguburkan jenazah di kuburan Baqi`, tiba-tiba datang kepada kami Nabi SAW, lau beliau duduk dan kami pun duduk disekitarnya. Ketika itu seakan-akan di atas kepala kami ada burung dan pada saat itu sedang digali kubur untuk jenazah, maka Nabi SAW berucap: "Aku berlindung dari adzab kubur." Sebanyak tiga kali. Nabi berkata: "Lalu dikembalikan ruhnya ke dalam jasadnya, maka datanglah kepadanya du Malaikat dan mendudukkannya. Kemudian keduanya berkata kepadanya: "Siapa Rabb-mu?" Jawabnya: "Rabb-ku ialah Allah." Keduanya berkata lagi: "Apa agamamu?" Jawabnya: "Agamaku Islam." Keduanya berkata lagi: "Apa kedudukan lelaki ini yang diutus di tengah-tengah kalian?" Jawabnya: "Dia adalah Rasulullah". Keduanya masih bertanya: "Apa pengetahuanmu?" Jawabnya: "Aku telah membaca kitab Allah, maka akupun mengimaninya dan membenarkannya." Tiba-tiba terdengar suara penyeru dari langit: "Bahwa hamba-Ku benar, maka berilah ia permadani dari Surga bukakanlah untuknya pintu menuju ke surga." Tiba-tiba berhembuslah kepadanya angin Surga dan kaharuman aromanya, serta diperluas untuknya kuburannya sejauh mata memandang. Setelah itu datang pula kepadanya seorang pria berwajah tampan, berpakaian bagus dan beraroma harum, dan berkata: "Bergembiralah atas segala yang menyenangkanmu, inilah hari yang dulu telah dijanjikan kepadamu." Ia bertanya: "Siapa anda? Wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan." Ia menjawab: "Aku adalah amal perbuatanmu yang shalih." Lalu ia berkata: "Ya Rabb, dirikanlah kiamat supaya aku dapat kembali kepada keluarga dan harta bendaku." Adapun orang kafir, lalu dikembalikan ruhnya kepada jasadnya dan ia pun didatangi dua Malaikat yang langsung mendudukkannya, kemudian keduanya berkata: "Siapa Rabb-mu?" Jawabnya: "Ah, ah, Aku tidak tahu." Keduanya berkata lagi: "Siapa laki-laki yang diangkat (sebagai Rasul) di tengah-tengah kalian?" Jawabnya: "Ah, ah, Aku tidak tahu." Tiba-tiba terdengar suara penyeru dari langit: "Bahwa ia telah mendustakan, mak berilah ia perlengkapan dari neraka dan bukakanlah untuknya sebuah pintu menuju ke neraka. Tiba-tiba menerpalah kepadanya hawa panasnya serta racun-racunnya, dan dipersempitlah kuburannya hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilangan."
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya alam kubur itu tahap pertama kehidupan akhirat. Jika seseorang selamat pada tahap pertama itu, maka ringanlah pada tahap-tahap berikutnya. Namun, jika tidak selamat pada tahap pertama, maka untuk tahap-tahap selanjutnya lebih dahsyat."
Ibnu ‘Abbas berkata Rasulullah SAW lewat dua kuburan kemudian beliau bersabda:
"Kedua penghuni kuburan ini sedang disiksa. Mereka disiksa (menurut pandangan mereka) bukan karena suatu dosa besar. Yang seorang suka mengadu domba kesana kemari, sedangkan yang satunya lagi ia kurang seksama ketika bersuci dari air kencing." Maka beliau memerintahkan untuk diambilkan pelepah kurma yang basah. Lalu beliau belah menjadi dua (dan beliau tancapkan di kuburan itu) seraya bersabda: "Semoga siksa kubur keduanya diringankan hingga kedua pelepah ini kering."
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh kawan-kawannya, maka ia bisa mendengar derap sandal-sandal mereka, kemudian ia didatangi oleh dua Malaikat, lalu keduanya mendudukkannya dan mengatakan kepadanya: 'Apa yang dulu engkau katakan tentang orang itu, Yakni Muhammad?' Adapun orang Mukmin, maka ia menjawab: 'Aku Bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.' Maka ia diberi tahu: 'Lihatlah kepada tempatmu di Neraka yang telah ditukarkan oleh Allah dengan suatu tempat di Surga.' Rasulullah SAW menjelaskan: 'Ia pun melihat dua tempat itu semuanya.' Adapun orang kafir dan munafik, kedua Malaikat itu berkata kepadanya: 'Apa yang dulu engkau katakan tentang lelaki ini?' Maka ia menjawab: 'Aku tidak tahu, dahulu aku berkata dengan apa yang dikatakan orang lain.' Kedua Malaikat itu berkata: 'Engkau tidak mengetahui dan tidak pernah membaca.' Lalu iadipukul dengan gondam dari besi tepat diantara kedua telinganya, hingga menjerit dengan jeritan yang keras serta dapat didengar oleh (seluruh) makhluk yang diatasnya selain manusia dan jin."
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sesungguhnya jika salah seorang diantara kamu mati, disiapkan tempat baginya pada pagi dan sore hari. Jika dia dari penghuni jannah, maka dia dimasukkan sebagai penghuni jannah. Jika dia dari penghuni neraka, maka dia dimasukkan sebagai penghuni neraka. Lalu dikatakan kepadanya: "Ini tempatmua, sehingga Allah membangkitkannya pada hari Kiamat."

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang berbicara tentang alam kubur, bahkan ia sampai kepada derajat mutawatir. Demikian juga tentang pertanyaan Munkar dan nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakn bagaimananya. Sebab akal memang tidak bisa memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini. Ajaran syari'at juga tidak memberi kemampuan akal untuk menyingkapnya. Kembalinya ruh ke dalam jasad, tak sebagaimana kembalinya ruh itu di dunia (sesudah tidur). Ruh itu kembali dengan cara kembali yang tidak dikenal di dunia ini. Sedangkan ruh itu memiliki lima hubungan dengan tubuh kasar berbeda-beda hukumnya:
• Berhubungannya ruh dalam perut ibunya dalam bentuk janin.
• Berhubungannya ruh dengan tubuh setelah dikeluarkan ke alam dunia.
• Berhubungannya ruh dengan tubuh di kala tidur. Saat itu, disatu sisi ia berpisah dari tubuh, disisi lain ia masih bergantung padanya.
• Berhubungannya ruh dengan tubuh di Alam Barzakh. Sesungguhnya meskipun ia meninggalkan tubuh dan berpisah darinya, namun tidak meninggalkannya secara total, sehingga tak menoleh kepadanya sedikitpun. Karena ia masih mendengar detak suara terompah manusia (di atas kubur) samapi menjauh.
• Berhubungannya ruh dengan tubuhnya pada hari Kebangkitan, itulah hubungannya yang paling sempurna pada tubuhnya. Karena keberhubungannya yang lain sebelumnya. Karena, keberhubungan itu mengharuskan untuk tidak tidur, mati ataupun rusak. Tidur adalah saudara kematian.
Wal hasil, alam itu ada tiga: Alam dunia, Alam Barzakh dan Alam Akhirat. Masing-masing alam itu telah Allah berikan kekhususan tersendiri. Allah merakit tubuh manusia dari tubuh kasar dan jiwa. Hukum-hukum dunia ini Allah berikan kepada tubuh, sedangkan ruh hanya mengikut saja. Sementara hukum-hukum di barzakh diberikan kepada ruh, sedangkan tubuh hanya mengikut saja. Apabila tiba Hari Kebangkitan dan keluarnya manusia dari kubur-kubur mereka, maka hukum, kenikmatan dan adzab akan diderikan kepada ruh dan jasad sekalian. Apabila pengertian ini betul-betul kita renungkan, keberadaan alam kubur sebagai taman-taman Jannah atau kubangan-kubangan Naar memang betul sesuai logika. Dan bahwa hal itu benar, tak perlu diragukan lagi. Dengan itu juga akan terbedakan orang-orang yang beriman kepada yang ghaib dari selain mereka. Dan perlu diketahui bahwa api/naar yang ada di alam kubur juga kenikmatan yang ada di dalamnya, tidaklah sejenis dengan api dan kenikmatan di dunia. Meskipun Allah membakar tanah dan batu-batuan yang ada di atas dan dibawahnya (dalam kubur), sehingga lebih panas dari bara di dunia, namun kalau tanah tersebut disentuh oleh penghuni dunia mereka tak akan merasakan apa-apa. Lebih mengherankan lagi, bila dua orang laki-laki dikuburkan bersebelahan. Yang satunya berada dalam kubangan-kubangan api, sedangkan yang lainnya dalam taman-taman jannah. Namun panas api pada kuburan yang satu tidak sampai kepada yang lain. Demikian juga kenikmatan pada kuburan yang satu tidak akan sampai kepada yang lainnya. Kalau Allah hendak menampakkan kondisi itu kepada sebagian hamba-Nya (para Nabi), Allah menyembunyikannya kepada yang lain. Karena kalau Allah menampakkannya kepada seluruh manusia, hilanglah hikmah ajaran syari'at dan keimanan kepada hal ghaib. Dan tentunya manusia juga tidak saling membantu menguburkan. Rasulullah SAW bersabda: "Kalau kalian semua tidak disyari'atkan untuk saling menguburkan, tentunya akan kuperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang kini sedang kudengar." Maka karena hikmah ajaran syari'at ini tidak berlaku kepada binatang, maka mereka pun bisa mendengarkan suara adzab.
Aisyah berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
ِإنَّ لِلْقَبْرِ ضُغْطَةٌ لَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا سَعْدُ بْنِ مُعَاذٍ
"Sesungguhnya setiap kubur memiliki tekanan/himpitan. Seandainya seseorang selamat darinya, pastilah Sa'ad bin Mu'adz akan selamat pula."
Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin kaum Anshar yang syahid di ujung panah pada perang Khandaq. Kematian Sa'ad mampu mengguncang 'Ary Allah Ta'ala. Meski demikian, Sa'ad yang demikian hebat masih disindir Rasulullah SAW dalam haditsnya di atas. Lalu bagaimana halnya dengan orang-orang selain Sa'ad? Kita memohon keselamatan dari Allah SWT.
Abu Ayyub Al Anshari berkata, "Seorang bayi dikubur. Lalu Rasulullah SAW bersabda,
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضِمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيِّ
"Sendainya seseorang bisa berkelit dari jepitan kubur, niscaya bayi ini akan bisa berkelit pula."

Qoul Salaf
Imam Ath Thahawi di dalam kitabnya Al Aqidah Ath Thahawiyah mengatakan, “Kita juga mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya dan juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabb dan agamanya berdasar riwayat-riwayat dari Rasulullah serta para sahabat Ridhwanullahu ‘Alaihim Ajma’in. alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan-kubangan neraka.”
Imam Syafi’i mengatakan, “Adzab kubur itu benar adanya dan pertanyaan yang diajukan kepada penghuni kubur juga benar adanya.”
Imam Al Qurthubi menulis di dalam At Tadzkirah nya, "Beriman kepada adzab kubur dan fitnah yang ada di dalamnya, hukumnya wajib. Kewajiban mempercayainya telah dijelaskan oleh Ash Shadiq (Rasulullah SAW). Allah akan menghidupkan kembali seorang hamba di kubur, membekalinya dengan akal sebagaimana sebelumnya, agar ia dapat mengerti pertanyaan yang diberikan kepadanya, dapat menjawab serta memahami apa yang datang dari Rabb-nya dan apa yang telah ia persiapkan menghadapi alam kubur, baik berupa persiapan yang baik maupun yang buruk. Inilah keterangan yang telah dijelaskan oleh Nabi SAW. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Para sahabat –yang Al Qur`an diturunkan dengan lisan dan bahasa mereka melalui Nabi SAW- dan tabi'in sesudahnya tidak mempunyai keyakinan (dalam masalah kubur) selain yang telah kami sebutkan di atas."
Imam Ahmad berkata, "Adzab kubur adalah kepastian. Seorang hamba akan ditanya tentang agama, nabi, surga dan neraka. Malaikat Munkar dan Nakir pasti datang. Mereka berdua adalah "penguji" di alam kubur. Kita mohon keteguhan kepada Allah."
Abdullah bin Ubaid berkata, "Telah sampai khabar kepadaku bahwa ketika mayit telah diletakkan dikubur, ia mendengar suara langkah orang yang melayatnya (Al Wakhdzu). Tak ada yang mengajak bicara kepadanya pertama kali selain kuburnya. Ia berkata: 'Celaka wahai anak Adam. Bukankah engkau telah diperingatkan tentang diriku? Diperingatkan tentang kesempitan, kegelapan, bau busuk dan binatang-binatang yang ada di dalamku? Inilah yang kupersiapkan untuk menyambut kedatanganmu. Lalu apa yang kau persiapkan untuk menbghadapiku?"
Ibnu Atsir berkata dalam "An Nihayah" (164/5), "Al Wakhdzu" adalah suara sandal yang berjalan diatas tanah." Al Qurthubi berkata dalam "At Tadzkirah", "Al Wakhdzu" adalah berjalan dengan cepat."
Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam At Tahmid dengan isnadnya dari Ibn A'idz dari Ghudhaif bin Al Harits dari Abdullah bin Amru bin 'Ash, berkata, "Sesungguhnya kuburan akan berkata kepada seseorang yang abru dimakamkan, "Wahai anak Adam, apa yang membuatmu lalai dariku? Bukanlah engkau tahu, bahwa aku adalah tempat satu-satunya bagimu? Tempat yang gelap tetapi nyata. Apa yang membuatmu berpaling dariku, padahal sebelumnya kadang engkau berjalan di sekitarku (fidada)."
Ibnu A'idz bertanya kepada Ghudhaif, "Apa yang dimaksud dengan fidada?". Ia menjawab, "Berjalan disekitarnya dalam masa-masa tertentu."
Ghudhaif berkata, "Abdullah bin Ubaid bun Umair berkata kepada Abdullah bin Amru, "kalau ia seorang Mukmin, kuburnya akan diluaskan. Apa yang diperoleh dari perluasan itu?" Dijawab, "Kuburnya akan diluaskan, dijadikan sebagai tempat tinggal nan hijau, sementara ruhnya naik ke hadapan Allah."
Dari Abdullah bin Ubaid bin Amir, ia berkata, "Allah menciptakan lisan bagi kubur hingga ia dapat berkata, "Wahai anak Adam, mengapa engkau melupakanku? Bukankan kau telah tahu, bahwa aku adalah satu-satunya tempat bagimu, yang dipenuhi binatang tanah dan mengerikan?". Abdullah bin Ubaid bin Amir berkata lagi, "Suatu ketika kubur menangis. Dalam tangisnya ia merintih, "Aku adalah tempat yang mengerikan. Aku tempat menyendiri, dan aku adalah tempat cacing (binatang tanah)"
Yazid bin Sakhirah berkata, "Kuburan berkata kepada orang kafir atau fajir, "Apakah kau tidak ingat akan kegelapan, kengerian dan kesempitan yang ada pada diriku?"

Orang-orang yang akan mendapatkan Adzab Kubur
Banyak hadits yang menerangkan tentang orang-orang yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya:
• Mereka yang tidak bersuci setelah buang air kecil, sehingga ia masih bernajis. Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas berkata Rasulullah SAW lewat dua kuburan kemudian beliau bersabda: "Kedua penghuni kuburan ini sedang disiksa. Mereka disiksa (menurut pandangan mereka) bukan karena suatu dosa besar. Yang seorang suka mengadu domba kesana kemari, sedangkan yang satunya lagi ia kurang seksama ketika bersuci dari air kencing." Maka beliau memerintahkan untuk diambilkan pelepah kurma yang basah. Lalu beliau belah menjadi dua (dan beliau tancapkan di kuburan itu) seraya bersabda: "Semoga siksa kubur keduanya diringankan hingga kedua pelepah ini kering."
• Mereka yang suka mengadu domba (mengadu dua orang dengan kebohongan). Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits di atas.
• Mereka yang suka berbuat ghulul (mengambil ghanimah yang bukan haknya).
• Mereka yang berbuat kebohongan.
• Mereka yang membaca Al Qur`an akan tetapi tidak melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah dan yang dilarang di dalam Al Qur`an.
• Mereka yang melakukan zina.
• Mereka yang memakan riba.
• Mereka yang suka berhutang.

Orang-orang yang terbebas dari adzab kubur:
• Orang yang mati syahid di jalan Allah.
Dari Rasyid bin Sa'ad, dari beberapa sahabat Nabi SAW, disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi SAW,
ياَ رَسُوْلُ اللهِ, مَا بَالَ المُؤْمِنِيْنَ يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ إِلَّا الشَّهِيْدُ؟ قَالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً.
"Wahai Rasulullah SAW, mengapa orang-orang beriman akan diuji dalam kubur, kecuali para syuhada`?". Beliau menjawab, "Kilatan pedang yang berkelebat di atas kepala mereka (para syuhada`) sudah cukup menjadi ujian bagi mereka."
• Orang yang ribath.
Salman berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
رِباَطُ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَ قِيَامِهِ وَ إِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَ أَجْرَي عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَ أَمِنَ الْفِتَانِ.
"Ribath sehari semalam lebih baik dari puasa dan shalat malam sebulan. Kalau seseorang mati (dalam kondisi ini), amalannya akan mengalir dan dicurahkan rizqi atasnya serta dijamin bebas dari ujian kubur."
• Orang yang meninggal pada hari Jum’at atau malamnya.
Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ تَعَالَى فِتْنَةَ الْقَبْرِ.
"Tidaklah seorang Muslim yang meninggal pada hari Jum'at atau malam jum'at, kecuali Allah pasti akan menjaganya dari fitnah kubur."
• Orang yang meninggal karena sakit perut.
Abu Ishaq Asy Syu'aibi berkata, "Sulaiman bin Shord berkata kepada Khalid bin Urfathah –atau sebaliknya, Khalid berkata kepada Sulaiman,
أَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ لَمْ يُعَذَّبْ فِي قَبْرِهِ؟ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: نَعَمْ.
"Apakah kamu mendengar rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa meninggal karena sakit perut, tidak akan diadzab dalam kuburnya". Salah seorang dari mereka menjawab, "Ya".
• Bacaan Surat Al Mulk (surat Tabaraka).
Rasulullah SAW bersabda,
سُوْرَةُ تَبَارَكَ هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ.
"Surat Tabarak akan mencegah adzab kubur."

Agar Selamat dari Adzab Kubur
Sebuah riwayat yang disebutkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan juga oleh Al Hakim dalamAl Mustadraknya, menyebutkan,
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam Al Musnad dan lainnya, serta yang diriwayatkan Abu Hatim bin Hibban dalam Shahihnya dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya jika mayit telah diletakkan di kuburnya, mampu mendengar suara sandal mereka (yang menguburnya). Jika ia seorang Mukmin, shalatnya hadir menemani di daerah kepalanya. Puasa di samping kanan dan zakatnya di samping kirinya. Perbutan lain seperti infak, silaturrahmi, amar makruf dan akhlak baiknya ada di kakinya.
Kemudian dua Malaikat datang dari sebelah kepala. Shalatnya berkata, "Tak ada yang bisa masuk dari arah ini". Malaikta tadi pindah ke sisi kanannya, dan dicegat oleh puasanya, "Tak ada yang bisa masuk dari arah ini". Mereka pindah ke samping kiri. Dijawab oleh zakat, "tak ada yang bisa masuk dari arah ini".
Lalu mereka mendatangi dari sebelah kiri. Shadaqah, silaturrahmi, amar makruf dan akhlak baiknya mencegat, "Tak ada yang bisa masuk dari arah ini". Akhirnya mereka berkata, "Duduklah". Ia duduk mendekat seperi matahari yang hendak tenggelam. "Biarkan akku shalat", pintanya.
"Kamu mau shalat? Beritahu kami tentang beberapa hal yang akan kami tanyakan. Apa yang aku ketahui tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang kau katakan tentangnya, dan bagaimana kesaksianmu terhadapnya?"
ia menjawab, "Dia adalah Muhammad. Kami bersaksi bahwa dia Rasulullah. Datang membawa kebenaran dari Allah." Dikatakan kepadanya, "Atas keyakinan itu kamu hidup dan atas keyakinan itu kamu akan dibangkitkan, Insya Allah." Kemudian dibukakan pintu surga. Dikatakan padanya, "Inilah tempat yang telah Allah janjikan kepadamu."
Ia menjadi gembira dan bertambah riang. Kuburnya diluaskan hingga tujuh puluh hasta dan disinari cahaya terang. Jasadnya dikembalikan sebagaimana semula. Ruhnya diletakkan dalam hembusan burung yang bergantung di surga.
Inilah yang difirmankan Allah Ta'ala, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Qs. Ibrahim: 27).
Lalu disebutkan keadaan orang kafir yang bertolak belakang. Ia berkata, "Kuburnya disempitkan sehingga hancur tulang-tulangnya. Itulah "kehidupan sempit" yang dimaksud dalam firman Allah, "….baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (Qs. Thaha: 16)."
Abu Dzar Al Ghifari berkata, "Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu. Dirikanlah shalat di kegelapan malam untuk menghadapi hari kebangkitan dan berpuasalah di dunia untuk menghadapi kari kebangkitan dan bersedekahlah untuk menghadapi hari yang berat. Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu."



Maraji’:
• Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Iz Ad Dimasqi, Muassasah Ar Risalah: Beirut, jld. II, cet. XIII, 1421 H/2000 M.
• Tahdzib Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah Edisi Indonesia, Abdul Akhir Hammad Al Ghunaimi, Pustaka At Tibyan: Solo, jld. II, cet. IV, 2002.
• Manhaj Aqidah Imam Syafi’i, DR. Muhammad AW. Al ‘Aqil, Pustaka Imam Syafi’i: Bogor, cet. II, 1423 H/2003 M.
• Al Kabair, Imam Adz Dzahabi, Pustaka Arafah; Solo, cet. I, 2001.
• Malam Pertama di Alam Kubur, Syaikh Muhammad bin Husain Ya'qub, dkk, Aqwam: Solo, cet. II, 1425 H/2004 M.



Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar